
Prodi IPII UIN Antasari Gelar Kuliah Tamu Psikologi Perpustakaan: Tekankan Pentingnya Memahami Manusia di Balik Layanan Perpustakaan
BANJARBARU — Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam (IPII) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Antasari Banjarmasin sukses menyelenggarakan kegiatan Kuliah Tamu bertajuk “Psikologi Perpustakaan: Memahami Manusia di Balik Layanan Perpustakaan” pada (2/10/2026). Acara ini berlangsung secara luring di Ruang 2.1 FTK Kampus 2 UIN Antasari Banjarmasin.
Kegiatan yang ditujukan bagi seluruh mahasiswa Semester IA dan IB Prodi IPII ini dibuka secara resmi oleh perwakilan Ketua dan Sekretaris Prodi, Ana Rizka Mashud, M.IP.. Dalam acara tersebut, Prodi IPII menghadirkan narasumber praktisi dan akademisi, Nuriah Hasibuan, S.I.P., M.A., yang merupakan Tutor Tuton Universitas Terbuka sekaligus Pustakawan Universitas Multimedia Nusantara.
Dalam pemaparannya, Nuriah Hasibuan menegaskan bahwa perpustakaan bukan sekadar tempat penyimpanan koleksi buku atau penyedia fasilitas teknologi semata, melainkan sebuah ekosistem yang berorientasi langsung pada interaksi antarmanusia. Oleh karena itu, keberhasilan layanan informasi sangat dipengaruhi oleh pemahaman pustakawan terhadap aspek-aspek psikologis pemustaka.
“Layanan perpustakaan berorientasi langsung pada manusia, sehingga menuntut pemahaman perilaku sosial. Pustakawan harus dibekali kemampuan membaca ekspresi, suasana hati, serta hambatan psikologis dari pencari informasi,” ujar Nuriah dalam materinya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pemustaka memiliki latar belakang, usia, kemampuan teknologi, dan kondisi emosional yang amat beragam. Motivasi seseorang datang ke perpustakaan pun dipengaruhi oleh lima dimensi utama, yaitu kognitif, afektif, sosial, digital, dan akademik.
Tak hanya berfokus pada pemustaka, kuliah tamu ini juga mengulas kondisi psikologis pustakawan. Nuriah menyampaikan bahwa seorang pustakawan tidak cukup hanya mengandalkan hard skills seperti penguasaan teknologi dan penelusuran informasi, tetapi juga wajib menguasai soft skills seperti komunikasi, empati, dan kemampuan mendengarkan.
Menanggapi risiko burnout atau stres kerja kronis yang sering dialami pustakawan akibat tuntutan pelayanan dan beban kerja tinggi, narasumber menekankan pentingnya penerapan kecerdasan emosional (emotional intelligence). Berdasarkan konsep Daniel Goleman, pustakawan diharapkan mampu menerapkan lima aspek kecerdasan emosional, yaitu self-awareness, self-regulation, motivation, empathy, dan social skills.
Rangkaian kegiatan yang diisi dengan presentasi interaktif dan diskusi tanya jawab tersebut diakhiri dengan sesi penutupan dan foto bersama yang dipimpin oleh Muhammad Alfin Ramadhan, M.A..
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan dapat mempersiapkan diri menjadi calon pustakawan profesional yang humanis dan berempati, sejalan dengan prinsip dasar layanan: “Good library service starts with understanding people” (Layanan perpustakaan yang baik berawal dari pemahaman terhadap manusia).



